QHANSA D.

  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Facebook Icon
  • Black Twitter Icon
  • Black LinkedIn Icon
  • Black SoundCloud Icon
  • Black Spotify Icon

BLOG

  • Qhansa D.

22 May 2019 Drove Me Crazy

Sebelum ingatan cerita dan kisah 22 Mei 2019 ini hilang, jadi aku post lagi hari ini.



03.45 WIB - Sahur

Jadi, saat aku bangun pagi untuk Sahur (karena lagi puasa), ada berita kalau tadi malam terjadi kerusuhan disekitar Bawaslu dan Tanah Abang. Entah dari pihak yang memang demo atau oknum yang tidak bertanggung jawab untuk membuat keadaan menjadi buruk disana.


Beberapa temanku yang kerja di tempat yang berbeda - beda, mereka bilang kalau kantor mereka diliburkan / kerja remote karena Demo 22 Mei 2019 ini. Well, THAT'S NICE!


Tapi kantorku gak ada pengumuman sama sekali "Apakah kita diliburkan atau tetap masuk kantor seperti biasa?". Sempat ada perdebatan di dalam rumah karena orang tua ku meminta aku untuk izin ke kantor. Tapi, ya jujur ngomong aku gabisa ngapa - ngapain buat nego ke kantor kalau karyawan lainnya aja yang daerahnya sama - sama jauh tetep ke kantor hari itu. Akhirnya aku tetep maksain diri ke kantor.


06.30 WIB - Bingung Ke Kantor Lewat Mana

Biasanya jalur Busway ku ke Kantor tinggal naik 6A atau 6B dan langsung turun di depan Halte Bank Indonesia. Tapi sekarang, karena jalur Thamrin - Monas banyak yang ditutup, akhirnya aku harus cari cara lain untuk bisa ke kantor.


Setelah searching jalur alternatif dan berpikir lagi, akhirnya aku berencana naik Bis Transjakarta 6 dan turun di Setiabudi Utara AINI lalu naik Ojek sampai ke kantor.


Semua berjalan sesuai rencana, tapi kagetnya adalah jalur yang tadi pagi temanku lewati (Jalan menuju Sarinah / Bawaslu dari arah Timur) sekarang ditutup juga. Akhirnya mau gak mau lewat Wahid Hasyim, Kebon Sirih (padahal sempet ada yang bilang daerah situ juga kena kerusuhan).


08.00 WIB - Turun di Depan Kantor Persis Ga?

YA ENGGAK LAH


*Mode Kesel Banget*


Kenapa?


Karena Jalan Kebon Sirih yang Lewat Kantor itu DITUTUP JUGA


Gimana gak kesel coba?! Akhirnya mau gak mau turun di sebelum perempatan dan jalan kaki dari sebrang sampai ke pintu gerbang masuk kantor yang jaraknya "Lumayan" lah ya berjalan 4000 kaki (Gak tau sih berapa kaki wkwk).


Terus, hal yang sangat mengagetkan lagi adalah Banyak Polisi yang Sedang Beristirahat Di Sepanjang Jalan Kebon Sirih itu. Sebenernya sempet bingung sih "Ini bisa lewat gak ya? Mana sendirian pula jalan kakinya". Akhirnya dengan segala keberanian aku lewatin para polisi - polisi yang sedang beristirahat disepanjang jalan itu.


Note: Gak ada foto/videonya karena gak lagi ngeluarin hp pas lagi jalan.


08.30 WIB - Kegiatan di Kantor Normal?

Sebenernya sih NORMAL GAK NORMAL


Gimana tuh?


Ya, kerjaannya sih diusahakan bisa diberesin pas hari itu (ada project yang harus diselesaikan). Tapi, dengan keadaan Demo dan Rusuh hari itu, pasti ada rasa gak tenang dong. Bawaannya tuh emosian (padahal lagi puasa). Kita banyak cerita - cerita gimana tadi perjalanan ke kantornya, terus bisa jalan apa engga, ojek nya mau ngambil apa enggak, macet apa engga, dan lain - lainnya.


Pokoknya Cerita Kita Gak Ada yang Menyenangkan Saat 22 Mei 2019 ini.


Kita semua mantau Social Media (Banyaknya Instagram dan Twitter) untuk bisa tau kabar terkini di Bawaslu. Bukan bermaksud untuk ngompor - ngomporin, atau mengadu domba, atau menyebar hoax, atau lainnya. Tapi untuk menjawab pertanyaan "GIMANA KITA PULANGNYA KALO DEMO BEGINI?"


Banyak temen - temen sekolahku yang gak ke kantor karena emang diliburin. Jadi mereka hanya mengkonsumsi berita dari TV atau Internet. Aku bukan bermaksud untuk menjudge mereka atau gimana. Tapi ini aku mau sharing kejadian KLIMAKS EMOSIONAL KU saat tanggal 22 Mei 2019.


(Ini aku persingkat langsung ke intinya ya)


KISAH PERTAMA

Ada seorang temanku yang bilang "Pemilu tahun ini paling kacau. Indonesia kan negara Demokrasi, seharusnya yang kudu direvolusi adalah Rakyatnya". Dan aku sangat setuju dengan pernyataan dia.


Kemudian dia bilang "Susah sih dengan Kondisi Low-Education pola pikir masyarakat, jadi prinsip nya masih 'Yang Kaya yang Berkuasa'. Ibarat ember: orang low-education = ember bocor, terus ditambalkan pake duit." Dan lagi - lagi aku setuju.


Lalu aku bilang "Makanya harus membantu merubah Indonesia". Tapi, yang dibalas adalah "Minat belajarnya aja kurang, gimana mau berubah?". Dan dari situ aku agak emosi tapi bisa tertahankan.


Dan aku bilang "Harus dibuat minat dong. Kita gak boleh cuma ngomong / komentar. Kita harus bisa buat perubahan itu mulai dari diri sendiri dan sekitar kita". Dia pun menjawab "How?".


Dan dia pun berpendapat (yang akupun juga setuju) adalah "Salah satu cara 'merapihkan' sifat masyarakat untuk sekarang adalah HUKUM. Tapi sayangnya hukum di Indonesia sistemnya banyak yang digerakan dengan uang. Untuk sekitar kita, setidaknya dimulai dengan Jangan Menjadi Netizen Toxic."


Oke, itu adalah akhir cerita KISAH PERTAMA Perbincangan ku.


KISAH KEDUA

Jujur aku gak tau apakah temanku ini bermaksud menuntut atau hanya mengutarakan kekesalan atau hanya berkomentar. Tapi perbincangan dengan temanku yang ini membuat aku emosi terklimaks pada tanggal 22 Mei ini.


Disini, aku gak menyalahkan dia karena telah berkomentar, bahkan aku sangat berterima kasih karena berkat perbincangan ini, aku jadi berpikir lebih dalam dan memulai semua postingan blog ini. Karena kalau aku malah ngomel - ngomel atau cerita ke temanku yang lain, akan jauh lebih buruk dampaknya.


So Thank You In Advance!


(Back to the Story)


Temanku yang satunya ini memang bukan orang Jakarta (jadi aku bisa memaklumi kalau dia kurang paham keadaan yang ada disini). Dia bilang "Kenapa gak izinin saja para pendemo masuk ke Bawaslu? Tapi beri syarat untuk bisa tertib dan dikawal polisi agar bisa sama - sama mendengarkan penjelasan Bawaslu. Lalu selesai sudah demo nya. Kenapa jadi anarkis? Karena Bawaslu gak memberikan izin ke mereka untuk masuk, sedangkan masyarakatnya sangat ingin tau kejelasan Bawaslu. Eh Bawaslu nya malah diem aja entah dimana. Daripada ada korban masyarakat, lebih baik mengorbankan Gedung Bawaslu untuk dimasuki rakyat dengan tertib."


*Pause*


Tolong yang baca, disini jangan memandang masalah kamu pro kubu mana ya.


*Continue*


Aku bilang ke dia kalau aku pun juga gak paham sistem pemerintahan, akupun juga bukan orang pemerintahan. Tapi dengan aku melihat keadaan disini, sepertinya gak bisa se-simple itu untuk bisa memasuki rakyat ke dalam Gedung Bawaslu. Banyak orang yang (mungkin) sebenernya ingin demo dengan damai, namun ada beberapa oknum yang menggunakan kesempatan demo ini dan menjadi provokator keributan sehingga jadilah hal - hal yang tidak diinginkan.


Sebenernya setelah perbincangan itu, mulailah aku berdebat dengan dia beberapa kali. Sampai pada akhirnya tiba - tiba aku sadar bahwa Demo Ini Membuat Aku dan Temenku Jadi Ribut. Padahal Kita Bukan Korban Jiwa, Tapi Kenapa Malah Jadi Berantem?


Akhirnya aku berusaha untuk mengakhiri perdebatanku dengan berkata, "Aku bukan orang yang punya kekuasaan untuk bisa berhentiin mereka semua. Tapi yang aku tahu, kejadian ini membuat kita semua terpecah belah. Entah siapa yang dukung siapa, tapi ini memecah belah kita semua. Kalo ada yang sepaham, ya enak. Kalo udah gak sepaham, bisa berantem sampe akhir ini yang ada gak akur - akur. Aku disini hanya share keadaan karena aku kantor disana. Bukan bermaksud untuk menyalahkan tim pendemo yang bermaksud damai dalam demonya. Yang aku gak suka adalah mengganggu semua kegiatan di Jakarta. Udah gitu aja."


Aku kira perdebatan bakal berakhir. Kembali lagi dengan kalimat "Aku cuma komen aja, Harusnya Gedung Bawaslu Dibuka Aja Biar Gak Gini Kejadiannya". (Aku udah capek jelasinnya) Akhirnya aku bilang "Mending Mention Bawaslu nya aja langsung. Jangan ke Aku, Aku bukan orang Bawaslu".


Berakhir dengan ternyata dia bilang HANYA KOMENTAR.


Oke, disini aku bingung antara mau tenang atau makin emosi. Karena sejujurnya aku lagi di posisi panik karena takut gak bisa pulang ke rumah dengan selamat (Karena aku udah ngedebatin orang tua buat tetep ke kantor padahal orang tua ngelarang). Ditambah dengan perdebatan ini, udah dari Emosi gara - gara demo, makin Batin. BERAAATTT!!!


Aku bilang ke temenku kalau dia mau komentar gak masalah. Cuma, aku adalah orang yang bisa kesel kalau ada suatu kejadian dan aku gak bisa berbuat apa - apa. Jakarta pecah, negara hancur cuma gara - gara politik. Aku bisa apa? Hanya menghindar, mengamankan diri, dan lainnya. Gak bisa ngapa - ngapain lagi selain sharing kejadian yang aku alamin disini.


Aku bercerita ke temen - temen yang lainnya pun gak akan membawa perubahan. Mereka yang gak mengalami kejadian yang sama sepertiku, pasti gak akan bisa membantu apa - apa selain bilang "Sabar".



Conclusion

Oke, ini adalah kisah yang membuat aku kembali berpikir.


Orang lain yang tidak mengalami hal yang sama seperti dirimu, tidak akan bisa merasakan apa yang kamu rasakan jika hanya membaca CHAT atau CERITA atau TELEPON. Merekapun tidak bisa berbuat apa - apa selain menenangkan dirimu dan selesai sudah masalah. Sedangkan Kamu tidak ingin berhenti sampai situ. Kamu ingin perubahan. Kamu tidak bisa memaksa orang lain untuk BEREMPATI, karena TIDAK SEMUA ORANG PUNYA EMPATI. Bagaimana caranya kamu membuat orang lain merasakan apa yang kamu rasakan?

VISUALS


Ada orang yang Berkata:

A Picture is Worth a Thousand Words

Banyak orang lebih percaya dengan foto / video dibandingkan perkataan / tulisan. Dan memang aku akui bahwa foto / video merupakan bukti yang sangat amat kuat untuk mendukung argumen kita. Sebenernya tulisan juga bisa menjadi bukti yang kuat (seperti kontrak dan semacamnya), tapi kita disini kasusnya adalah berita / cerita. Dan bisa kita ketahui bahwa semakin modern zaman ini, semakin banyak Hoax beredar. Social Media membuat kita tidak berpikir jernih terlebih dahulu sebelum berkomentar / merespon postingan. Banyak orang yang tidak bertanggung jawab bercerita sesuai opini mereka (ya itu tidak masalah sebenernya), tapi yang jadi masalah adalah para pembacanya. Jangan sampai kamu termakan HOAX.


Sekian Cerita Ini.


Aku juga manusia, jadi pasti ada salahnya juga. Mohon maaf apabila ada salah kata atau ada yang tersinggung.


Terima Kasih Telah Membaca Sampai Akhir.