• Qhansa D.

Mengapa Kita RELA Menyontek Saat Ujian?

Aku yakin bahwa setiap anak yang menyontek saat ujian di sekolah atau kuliah, memiliki alasan yang sangat amat jelas, yaitu Mendapatkan Nilai Bagus.


Sebelumnya, aku tidak bertujuan untuk men"jelek"kan orang yang menyontek dan meng"agung"kan orang yang tidak menyontek sama sekali. Disini aku akan menjabarkan beberapa alasan mengapa kita melakukan itu?


Tulisan ini merupakan salah satu lanjutan blog yang aku tulis sebelumnya, yaitu "Persoalan yang Tak Kunjung Usai: Pendidikan Indonesia"


Banyak Orang (Masih) Menganggap Nilai Adalah SEGALANYA

Apakah kamu adalah satu orang yang menganggap itu? Nilai adalah Segalanya? Atau bahasa lainnya adalah:

"Nilai adalah PENENTU Kesuksesan Seseorang"

Tanpa kita sadari, mayoritas orang di SELURUH DUNIA masih menganggap hal tersebut. Misalnya:

  • Ketika orang-orang pintar mendapatkan nilai tinggi dengan mudah sedangkan kita yang bersusah payah belajar, boro-boro dapet nilai minimum 6 atau 7. Paling dapetnya 5.

  • Ketika syarat lolos masuk SMP/SMA/Universitas Negeri Favorit harus diraih dengan nilai UN/SBMPTN yang tinggi (misal nilai rata-rata 9). Sedangkan kita sendiri kesulitan untuk mendapatkan nilai rata-rata 7.

  • Dan masih banyak lagi contoh yang bisa dibayangkan.


Hal seperti inilah yang SEBENARNYA membuat kita berfikir bahwa Kalau Kita Mendapatkan Nilai Bagus, Jalan Kita Menuju Kesuksesan Akan Lebih Mudah.


Jujur ngomong, aku merasakan hal yang serupa. Dan pastinya, hal ini membuat diriku RELA menyontek saat ujian disekolah (terutama pelajaran yang aku gak bisa/gak paham).


Lalu, Sebenarnya Salah Siapa?

Sebelum aku memberikan jawaban, kita harus tahu bahwa masalah ini TIDAK akan TERSELESAIKAN kalau kita SELALU MENYALAHKAN orang lain. Tapi, aku akan memberikan runtutan permasalahannya:

  1. Orang menyontek untuk mendapatkan Nilai Tinggi

  2. Nilai tinggi diperlukan untuk Bisa Masuk SMP/SMA/Universitas Negeri Favorit

  3. Tempat dimana kita sekolah/kuliah MASIH menjadi Penentu Masa Depan Seorang Anak.

  4. Kalau tidak bisa masuk ke sekolah favorit, Anak Sulit untuk Meraih Kesuksesan.

  5. Kesuksesan seseorang seringkali ditentukan oleh Pendapatan/Materi/Uang.

  6. Uang adalah alat yang bisa membantu kita untuk Bertahan Hidup.

  7. Hidup adalah untuk ...? (Ini Kembali Ke Masing-masing Orang)


Secara tidak sadar, dari 7 poin yang aku jabarkan di atas, adakah kata-kata yang menyebutkan "Belajar" atau "Mencari Ilmu"? Sepertinya tidak.


Ya, mungkin karena aku gak nyebut aja kali ya? HAHA.


Tapi, saat aku menuliskan ini, memang tujuan sebagian besar orang adalah Mencapai Kesuksesan (yang biasanya diukur dari materi). Dan sejujurnya, tidak ada yang salah dengan tujuan ini.


Namun, kalau kita lihat ke permasalahan "Kenapa Kita RELA Menyontek Saat Ujian", ya alasannya untuk mendapatkan nilai tinggi sehingga kita bisa sukses.


Menurut kamu, kira-kira ada yang salah gak dengan pernyataan ini:

"Sekolah itu untuk Mendapatkan Nilai Tinggi agar menjadi Orang yang Sukses"

Suka atau tidak suka, secara langsung atau tidak langsung, orang yang RELA menyontek memiliki pemikiran ini.


Kok bisa? Gimana ceritanya?


Oke, Jadi Begini...


Mindset yang Berubah

Disini aku akan menjabarkan kronologis kejadian yang terjadi selama kita di dunia pendidikan, sehingga merubah cara pandang kita saat masih kecil hingga dewasa.


Pandangan Seorang Anak SD

Semua anak pasti mulai masuk ke dunia pendidikan/akademis saat berumur 6 tahun, yaitu jenjang Sekolah Dasar (SD). Sebagai anak kecil, yang kita tahu adalah "Kita Sekolah untuk Belajar/Menuntut Ilmu/Mendapatkan Teman."

Aku yakin 100% semua anak SD yang baru masuk sekolah (SD Kelas 1) GAK ADA yang Berfikir bahwa "Sekolah itu untuk Menjadi Orang Sukses".

Kalau kamu pernah bepikir untuk menjadi orang sukses saat kelas 1 SD, silahkan hiraukan kalimat yang di atas tadi. Mungkin kamu adalah orang langka dan sangat visioner (Ini konteksnya bagus ya).


Nah, saat kita sudah mulai dihadapi dengan yang namanya UJIAN, kita pasti melakukannya dengan sebaik mungkin/sesuai kapasitas diri kita kan? Bahkan kita belum berfikir bahwa "Kita harus mendapatkan nilai 100", karena kita fokus pada mempelajari ilmu yang membuat kita tertarik/senang.


Dunia Berubah Ketika Rapor Sekolah Diberikan Ke Orang Tua

Pernah gak sih kalian berpikir "Kenapa orang tua kalau ngambil rapor bisa ngobrol lama sama gurunya?". Menurut kalian, kira-kira mereka bahas apa sih?


Saat aku sekolah, aku gak pernah mau tau apa yang mereka bahas saat pengambilan rapor. Aku mending ketemu temen dan bermain sama mereka daripada duduk lama ngantri ambil rapor berjam-jam.


Tapi, setelah aku lulus kuliah (alias udah keluar dari dunia pendidikan), aku baru sadar apa yang mereka bahas. Salah satunya adalah NILAI.


Di Dunia Pendidikan, Nilai adalah salah satu cara untuk melihat kemampuan seorang anak. Kalau Nilai rapor seluruh mata pelajarannya Bagus, guru pasti bilang ke orang tuanya kalau anak mereka Pintar. Tapi kalau di rapor Ada 1 Nilai Jelek, guru bilang ke orang tuanya kalau anak mereka perlu Meningkatkan Belajarnya di mata pelajaran yang Jelek itu.

Tanpa menjelek-jelekkan peran seorang guru, disini aku ingin mengingatkan bahwa sistem pendidikan kita menggunakan Sistem Standarisasi (yang menuntut kita untuk bisa paham dengan semua mata pelajaran yang ada disekolah). Jadi, wajar saja kalau guru kita menyampaikan hal demikian, soalnya syarat kelulusannya sudah ditentukan seperti itu.


Anak Mulai Diikuti Les Tambahan untuk Pelajaran yang Tertinggal

Percakapan antara orang tua dan guru saat mengambil rapor anaknya, membuat anak harus mengikuti les tambahan agar nilai yang jelek tadi berubah menjadi bagus.


Sebenarnya, ada perdebatan antara:

"Haruskah anak diberi Les Tambahan di Mata Pelajaran yang Tertinggal atau yang Mereka Suka?"

Dan disini, akupun belum menemukan jawabannya.


Karena, berdasarkan pengalaman aku pribadi, aku pernah melakukan dua-duanya (tapi di masa sekolah yang berbeda).

  • Saat aku SD: Aku mengikuti les bahasa inggris karena bahasa inggris ku lebih jelek daripada teman-temanku, tapi aku memang suka hal-hal yang berbahasa inggris (seperti film, musik, dan lainnya).

  • Saat aku SMP: Aku mengikuti les matematika karena aku suka pelajarannya dan gak ada salahnya untuk mengasah kemampuanku.

  • Saat aku SMA: Aku mengikuti les bahasa inggris lagi agar kemampuan bahasa inggrisku tidak hilang dan les kimia karena nilaiku "jeblok" disitu dan aku gak paham kimia.

Dari semua pengalaman les yang aku lalui, pelajaran yang masih aku gemari sampai hari ini adalah matematika dan bahasa inggris. Kimia? Udah ke laut kayaknya HAHA.


Jadi, (lagi-lagi) semua ini karena nilai. Kalau gak karena harus ngejar nilai, aku gak akan ikut les kimia WKWK.


Dan semenjak itu, aku memutuskan untuk mengambil jurusan kuliah yang hanya menggunakan Matematika, Bahasa Inggris, dan Fisika. Karena aku sudah lelah mengejar nilai minimum di mata pelajaran lain. Sehingga, aku mengambil jurusan Teknik Informatika.


Oh iya, ada sebuah video yang aku temukan di YoutTube tentang "Why Perfect Grades Don't Matter" (artinya: Mengapa Nilai Sempurna itu Tidak Perlu Dipermasalahkan?). Dan video ini bisa menjelaskan secara singkat tentang apa yang aku bahas sebelumnya:


Bagaimana Solusinya?

Saat aku kuliah, karena aku mengambil jurusan yang aku suka, aku mencoba merubah Mindset ku kembali seperti saat aku masuk SD untuk pertama kalinya:

Dari Belajar untuk Mendapatkan Nilai Bagus (Mindset SMP-SMA), Menjadi Belajar untuk Menambah Ilmu/Wawasan (Mindset SD).

Sehingga, akupun merubah cara belajarku secara total. Aku lakukan dengan caraku sendiri, bukan cara orang lain atau bahkan keluarga. (Kalau kalian tertarik, nantikan postingan selanjutnya *Kalau Ada* HEHE)


Lucunya, selama aku kuliah, aku GAK TERTARIK untuk Menyontek. Ya alasannya karena Aku GAK Ngejar Nilai, melainkan Ingin PAHAM Dengan Materinya.

Kalau Kita Paham Dengan Materinya, Secara Otomatis Nilai Kita Juga Bagus. -- Teori yang Telah Terbukti oleh Qhansa

Lagipula, perusahaan TIDAK melihat kemampuan seseorang dari Akademis saja kok. Itulah yang membuat diriku untuk tidak bergantung 100% dengan perkuliahan saja. Malahan, aku lebih fokus untuk mencari pengalaman/hal-hal baru saat aku kuliah -- That's What I Like


Jadi, Ubah Mindset-mu :)

Terima kasih telah membaca sampai akhir. Sampai bertemu di blog selanjutnya!