• Qhansa D.

Persoalan yang Tak Kunjung Usai: Pendidikan Indonesia

Tulisan ini ada karena disebabkan oleh keresahan yang ada di dalam pikiran ku sejak tahun 2019 hingga hari ini tanggal 17 April 2020. Tepat pada pukul 01:00 WIB, aku memberanikan diri untuk menuliskan apa yang ada dipikiranku ini ke dalam blog.



Biasanya, kalau ada suatu masalah yang sangat membebani kepalaku, aku akan menuliskannya dibuku catatan agar setidaknya bisa meringankan beban otak. Tapi, sepertinya keresahanku terhadap permasalahan yang satu ini, tidak mudah untuk hilang begitu saja. Bahkan setiap hari, aku semakin parah memikirkan masalah ini yang tak kunjung usai, yaitu Pendidikan Indonesia.


Sulit rasanya untuk menulis blog ini, karena ku bukanlah seorang ahli di bidang pendidikan. Namun, rasanya kepalaku ingin 'pecah' karena terlalu banyak yang aku pikirkan (Inilah tidak enaknya memiliki sifat overthinking).


Jadi, saya ingin berpesan bahwa tulisan ini hanyalah hasil pemikiran yang tidak berstandar ilmiah. Sehingga, jangan dijadikan acuan ilmiah untuk riset kalian, karena ini hanyalah sekumpulan pengalaman pribadi, sedikit riset, dan beberapa observasi yang aku lakukan selama ini.


Sekolah Itu untuk Apa Sih?

Sebelum kita bahas lebih jauh tentang masalah Pendidikan Indonesia, ada satu pertanyaan yang terlihat mudah tapi jawabannya bisa sangat bervariasi, yaitu "Untuk Apa Kita Bersekolah?"


Dari satu pertanyaan itu, rata-rata orang menjawab:

  • "Disuruh orang tua"

  • "Karena anak-anak lain juga sekolah"

  • "Biar bisa membanggakan orang tua, yaitu menjadi anak yang sukses"

  • "Agar mendapatkan pekerjaan"

  • "Agar mendapatkan teman"

  • "Untuk menaikkan derajat/status sosial"

  • "Untuk mempersiapkan diri di masa depan"

  • dan lain-lain.


Semua jawaban di atas tadi, menurutku, tidak ada yang salah atau benar. Karena, semua kembali lagi ke latar belakang masing-masing orang. Namun, ada hal yang membuat diriku masih bertanya-tanya:

Kenapa anak-anak yang sangat menginginkan bersekolah tidak mendapatkan fasilitas yang memadai untuk mereka belajar? Sedangkan saat sekolah sudah memiliki fasilitas yang memadai, siswa/i disekolah tersebut malas belajar/pergi ke sekolah?

Dari pertanyaan/pernyataan tersebut, bisa dilihat bahwa Supply dan Demand nya tidak Match. Di luar itu, tentunya ada faktor-faktor yang mengakibatkan hal ini terjadi, seperti infrastruktur, perekonomian, politik, bahkan kebudayaan.


Mulai Dari Mana?

Ini adalah sebuah pertanyaan yang sering kali ditanyakan saat kita ingin menyelesaikan suatu permasalahan, "Mulai dari mana kita untuk menyelesaikan masalah X ini?" Dan aku sendiri masih mencari jawabannya (sampai hari ini).


Cahaya mulai terlihat ketika aku menemukan salah satu Podcast yang bernama Benang Merah, dibuat oleh Ben Laksana dan Rara Sekar. Mereka menciptakan ruang diskusi alternatif dan progresif yang membahas dan menjelajahi gagasan, pengalaman, dan fenomena sosial yang ada di masyarakat hari ini.


Podcast Benang Merah yang pertama kali aku dengarkan adalah Episode 01 - Roy Thaniago: Kekuasaan, Media dan Pendisiplinan Tionghoa. Walaupun secara garis besar mendiskusikan tentang diskriminalitas terhadap kelompok Tionghoa, ada beberapa pernyataan tentang Pendidikan yang dilontarkan oleh Roy Thaniago. Bahkan sampai detik ini sulit aku lupakan, antara lain:


  1. "Pendidikan adalah Harapan Indonesia karena merupakan peluang untuk Mengubah Keadaan"

  2. "Pendidikan adalah Laboratorium Masyarakat yang Penting karena interaksi dosen dan mahasiswa menciptakan Karakter dan Nilai-Nilai Baru mereka"

  3. "Seorang Pendidik seharusnya: Mengajar bukan karena uang semata, Ilmu yang diajarkan harus dipahami dan di-update, dan Mengerti peran dia untuk anak-anak"


Terakhir, mungkin pernyataan ini terlihat agresif, namun (menurutku) sangat diperlukan di Indonesia:

"Gue seneng banget untuk memprovokasi mahasiswa untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk akal!" - Roy Thaniago -

"Karena pada dasarnya, kalau struktur sosial disuatu kampus masih konservatif, tidak membebaskan orang, tidak membuat orang bisa merdeka/otonom, menurut gue dia akan keluar dari kampus menjadi orang yang sama dan masuk ke dalam sistem yang baru."


Dan, itu terjadi pada diriku.


Sebelum Kuliah

Saat aku SD, SMP, SMA, aku sangat takut dengan berpendapat. Kenapa? Karena takut salah atau orang tidak sependapat denganku. Parahnya lagi, aku takut bertanya saat pelajaran di kelas. Padahal, kita tahu bahwa "Malu Bertanya, Sesat Dijalan".


Menurutku, sistem pendidikan kita yang berprinsip 'menstandardidasi' semua anak, ada positifnya dan ada negatifnya.


Sisi Positifnya:

Semua anak mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama, kualitas pendidikan yang sama, dan hasil pengajaran yang (diharapkan) menciptakan generasi muda yang setara.


Sisi Negatifnya:

Karena semua anak (diharapkan) memiliki kualitas/output yang sama, tidak sedikit anak yang merasa "Tidak cocok/nyaman dengan sistem pendidikan yang ada" karena menghilangkan cara berpikir mereka yang (mungkin) berbeda/jauh dari kata 'Normal'.


Setelah Kuliah

Aku bersyukur karena bisa mendapatkan kesempatan untuk mengemban pendidikan lanjut S1, karena aku tau bahwa mencari uang itu sulit dan kuliah itu mahal (banget). Maka dari itu, sejak aku menginjakkan kaki di Bandung, aku berkomitmen untuk memaksimalkan dan memanfaatkan kesempatan apapun yang ada disekitarku.


Mungkin aku tidak bisa menjelaskan ini dengan lengkap, tapi ada 2 alasan mengapa aku lebih suka sistem pendidikan saat aku kuliah daripada saat aku SD, SMP, dan SMA (Kita sebut saja K-12):


1. Jam Belajar Perkuliahan Lebih Bervariasi/Fleksibel daripada Sekolahan

Sistem pendidikan K-12 menuntut kita untuk belajar di kelas dari jam 06:30 - 09:30, lanjut 10:00 - 12:00, lanjut lagi 13:00 - 15:00. Kalau kita tanya kepada mahasiswa yang memiliki jadwal kuliah seperti itu dalam satu hari, mayoritas dari mereka akan mengeluh karena Padatnya Jam Kuliah mereka pada hari itu. Alhasil, pada perkuliahan siang, mereka seringkali sudah tidak fokus karena kelelahan mengikuti kelas pagi yang diselingi istirahat HANYA 30 menit.


Bayangkan kalau misalnya kuliah dengan jam seperti itu dan dilakukan selama 5 hari. Mungkin mereka tidak akan mau kuliah karena sudah pernah merasakan pengalaman itu selama 12 tahun dari SD, SMP, hingga SMA. Dengan jam belajar yang fleksibel, kita bisa menggunakan waktu luang kita untuk hal bermanfaat lainnya, seperti ikut organisasi, unit kegiatan mahasiswa, kegiatan sosial, bekerja, dan lain-lain. Karena kita tahu bahwa "Experience is The Best Teacher".


Tapi, lagi-lagi, mungkin ada beberapa orang yang suka dengan cara K-12 yang memberlakukan jam belajar 06:30 - 15:00 setiap hari, dan itu tidak masalah. Hanya saja, mungkin sistem K-12 bukan untukku.


2. Adanya Kesempatan MEMILIH Mata Kuliah yang Aku Suka

Kesempatan memilih untuk mempelajari topik/bidang tertentu, tidak aku dapatkan saat K-12 (Pada jamanku). Kita harus mengikuti seluruh mata pelajaran yang diberikan oleh sekolah, entah suka ataupun tidak suka. Kalau tidak suka, ya pasrah aja, tinggal kita lihat gurunya bisa mengubah persepsi kita menjadi suka atau tidak?


Diperkuliahan, satu jurusan saja memiliki beberapa jalur peminatan lagi. Misalnya, pada kasus aku, jurusan Teknik Informatika memiliki tiga peminatan/kelompok keahlian:

  1. Intelligence, Computing, and Multimedia (ICM)

  2. System Information and Data Engineering (SIDE)

  3. Telematics


Dan masing-masing peminatan ada beberapa mata kuliah pilihan yang bisa membantu kita saat membuat skripsi / tugas akhir. Ingat! Namanya juga Mata Kuliah Pilihan, jadi bebas saja kalau misalnya mau mengambil (beberapa) kelas yang tidak sejalan dengan kelompok keahlian yang dipilih. Yang penting kalian suka, mau belajar, dan ilmunya bisa bermanfaat untuk kalian.


Untuk memvisualisasikan apa yang aku bahas di atas tadi, kalau sulit dimengerti, silahkan tonton video tentang "6 Problems with our School System" ini di YouTube:


Semoga bisa dimengerti dan menambah wawasan kalian :)


Lalu, Apakah Kita Bisa Tiru Sistem Pendidikan Negara Maju?

Jawabannya: BISA.


Namun, ada TAPI nya.


Kita harus mengetahui latar belakang/sejarah dari negara tersebut terlebih dahulu, sebelum kita tiru sistem pendidikan mereka. Aku akan memberikan beberapa hasil bacaan dan observasiku disini:


Eropa Lebih Dahulu "Melek Huruf" Daripada Negara Lainnya

Salah satu buku (pinjaman) yang aku baca dan membuat aku menuntun masalah ini dengan melihat sejarahnya terlebih dahulu adalah Buku Terjemahan Guns, Germs & Steel (Rangkuman Riwayat Masyarakat Manusia), karya Jared Diamond.



Dari buku ini, dijelaskan bahwa Spanyol telah memiliki kemampuan literasi yang tinggi, yaitu mampu membaca dan menulis. Padahal, pada saat itu belum ada negara Amerika dan Australia. Apalagi Indonesia? Sepertinya masih dalam masa kerajaan Majapahit HEHE.

Salah satu cara Eropa bisa mengalahkan Benua Amerika, Benua Australia, dan negara lainnya, yaitu dengan membawakan penyakit (seperti cacar, campak, flu, dan semacamnya) ke tengah orang-orang tanpa kekebalan terhadap penyakit tersebut. Sehingga memakan banyak korban di antara bangsa-bangsa di benua lain.

Coba kalian bayangkan, "Bagaimana caranya mereka bisa menciptakan penyakit?". Mungkin jawabannya ada di bidang biologi / kedokteran, yang mana bisa kita simpulkan bahwa WAJAR kalau negara di Eropa memiliki sistem pendidikan yang lebih maju dibandingkan negara dari luar Eropa.


Kalau kalian penasaran dengan cerita Eropa yang berhasil mengalahkan Benua Amerika, bisa tonton video ini di YouTube:


Terbukti dari ranking negara yang memiliki "World Best Education System", dilansir dari World Top 20 Project, bahwa 11 dari 20 negara dengan sistem pendidikan terbaik berasal dari Eropa:

  1. Finland

  2. Denmark

  3. South Korea

  4. Hong Kong

  5. Norway

  6. Slovenia

  7. Israel

  8. Sweden

  9. United Kingdom (*Before Brexit)

  10. Poland

  11. Singapore

  12. Japan

  13. Ireland

  14. Taiwan

  15. Kazakhstan

  16. Estonia

  17. Hungary

  18. Russia

  19. Belgium

  20. United States


Jadi, apakah kita bisa tiru 100% sistem pendidikan di Eropa? Jawabannya: Tentu Tidak.


Amerika Serikat yang Terbentuk Perlahan

Pada awalnya, aku mengira Amerika Serikat merdeka saat sudah memiliki 50 states. Ternyata, saat mereka merdeka pada tanggal 4 Juli 1776 dari jajahan Inggris Raya, mereka baru terdiri dari 13 koloni, yaitu:

  • Delaware

  • Pennsylvania

  • New Jersey

  • Georgia

  • Connecticut

  • Massachusetts Bay

  • Maryland

  • South Carolina

  • New Hampshire

  • Virginia

  • New York

  • North Carolina

  • Rhode Island


*Referensi: https://www.worldatlas.com/webimage/countrys/namerica/usstates/colonies.htm


Untuk penjelasan lebih detilnya, silahkan tonton video ini di YouTube (Bisa menggunakan subtitle Bahasa Indonesia):

Setelah kalian tonton video ini, kira-kira, apa yang muncul di benak kalian?


Kalau aku, setelah menonton video ini, aku paham bahwa "Banyak kemiripan yang terjadi antara Amerika Serikat dan Indonesia". Kenapa? Ini jabaranku:

  1. Sama - sama bekas jajahan Eropa.

  2. Di Amerika Serikat, New York dan sekitarnya, sudah seperti Jabodetabek di Indonesia. Jadi, mereka masih memiliki permasalahan 'Ketidaksetaraan' antar states/provinsi. Yang mana kalau di Indonesia, sebagian besar perekonomian dan pendidikan lebih baik di pulau Jawa. Sedangkan di Amerika Serikat, universitas terbaik (Ivy League Schools) dan pusat perekonomian dunia (seperti World Bank) berada di wilayah timur.

  3. (Data 2019 dan 2018) Total penduduk Amerika yaitu 328.2 juta jiwa (Jumlah Terbesar No. 3 di dunia) dan Indonesia berjumlah 267.7 juta jiwa (Jumlah Terbesar No. 4 sedunia).


Walaupun Amerika merupakan negara maju, dimana banyak penemuan sains dan teknologi yang muncul disana, mereka juga masih memperjuangkan dalam menyetarakan dan memperbaiki sistem pendidikan di negara mereka.


Gak percaya? Silahkan tonton beberapa video ini:

Here's Why The U.S. School System Is Broken


Teaching in the US vs. the rest of the world


Tapi tentunya, kita bisa ambil beberapa pelajaran dari negeri Paman Sam tersebut. Hanya saja, kita harus bisa sesuaikan dengan kebutuhan dan kultur Indonesia.


Melirik 4 Negara yang Pernah Menjadi Jajahan oleh Jepang

Karena Indonesia terletak di benua Asia, yang memiliki kebudayaan yang berbeda dengan negara barat, tentunya kita harus bisa melihat dari 'kacamata' negara di Asia juga.


Perspektif ini aku dapatkan dari Podcast uTara dari Tempo Institute, yang berjudul "uTara #8 - Kenapa Indonesia Tertinggal dari Korea dan Taiwan?" oleh Bapak Chairil Abdini, Sekretaris Jendral Akademi Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI).


Yap! Beliau menceritakan kisah 4 negara yang pernah dijajah oleh Jepang, yaitu:

  • Korea

  • Taiwan

  • Malaysia

  • Indonesia


Namun, mengapa Korea dan Taiwan bisa menjadi negara maju? Sedangkan Indonesia dan Malaysia masih menjadi negara berkembang?


Jawabannya adalah:

"Karena Korea dan Taiwan ber-investasi dalam Bidang Pengetahuan dan Teknologi. Sehingga tidak bergantung negara lain jika ingin mengembangkan teknologi di negara mereka sendiri." - Chairil Abdini -

Mereka mulai mengedepankan pendidikan dan mereka rela menjalani proses yang panjang untuk mengembangkan teknologi sendiri dari NOL. Dikarenakan mereka ingin menjadi negara yang mandiri, semua kebutuhan negara harus mampu diproduksi oleh negara sendiri, mau tidak mau semua penduduknya harus menjadi produktif, sehingga:

PRODUKTIFITAS TINGGI = NEGARA MAJU

Kembali ke sistem pendidikan...


Pada tahun 2000, The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menerbitkan hasil studi yang bernama Programme for International Student Assessment (PISA) untuk mengukur kemampuan anak-anak berusia 15 tahun dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains mereka untuk memenuhi tantangan kehidupan nyata. Hasil studi telah diterbitkan setiap 3 tahun sekali, yaitu 2000, 2003, 2006, 2009, 2012, 2015, dan 2018.


Finland, negara yang kita tahu memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia, ternyata sudah tidak menjadi peringkat 5 besar dalam PISA.



Lalu, negara mana yang menduduki peringkat teratas sekarang?



Yap! 5 negara teratas terletak di Asia! Berarti ada kemungkinan juga kita, sebagai negara Indonesia, memiliki kesempatan untuk menjadi negara dengan sistem pendidikan terbaik.


Tapi, kita harus mengetahui juga bahwa tingkat kematian akibat bunuh diri di negara Asia tersebut juga tinggi, bahkan mengalahkan angka kematian akibat bunuh diri di Amerika Serikat. Contoh:



Untuk lebih lengkapnya, bisa tonton video-video dibawah ini:


Korean Education: A Multifaceted Success Story | Mark Chung | TEDxDeerfield

Which Countries Have The Best Education?


Lagi - lagi, kita tidak bisa menerapkan 100% sistem pendidikan di suatu negara ke negara kita.


Jadi, Bagaimana Solusinya?

Tidak ada yang namanya Satu Sistem Pendidikan yang terbaik atau DIJAMIN berhasil untuk diimplementasikan di semua negara. Sistem Pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kultur, kemampuan, waktu, dan lain sebagainya.


Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini? Siapa yang harus melaksanakannya?


Jawabannya: KITA SEMUA YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB atas sistem pendidikan di Indonesia.

Kita harus paham bahwa masyarakat Indonesia tidak bisa menggantungkan harapan sepenuhnya ke Pemerintahan. Lalu, kita hanya menunggu pemerintah memberikan mandat atau kebijakan. NOPE! It doesn't work like that!


Seseorang pernah berkata (aku lupa siapa), bahwa:

Pihak Swasta adalah Pemicu Perubahan

Contoh bukti nyata Swasta yang membawa perubahan:

  • Go-Jek

  • Tokopedia

  • Bukalapak

  • Traveloka

  • Ruangguru

  • dan masih banyak lagi


Jadi, Janganlah Takut untuk Memulai Perubahan. Karena Tanpa Kamu, Indonesia Tidak Akan Menjadi Apa - Apa.

Terima kasih telah membaca tulisanku yang tidak beraturan ini. Semoga, kita bisa menjadikan Indonesia negara yang lebih baik lagi.


Kumpulan Rekomendasi Podcast (seputar Pendidikan)